Nasional

Peci pun Jadi Alat Komoditas Kampanye Politik

Posted on

Di Indonesia peci sudah menjadi bagian dari pakaian nasional. Ketika masyarakat Islam Indonesia banyak yang mengenakannya, maka peci menjadi identik dengan Islam, padahal yang berpeci juga belum tentu beragama Islam. Tapi di kota Jakarta yang Islami, ternyata peci bisa juga dijadikan komoditas politik (kampanye). Dalam Pilkada kali ini, para calon berebut pakai peci untuk menggiring pemilih.

Karena Jakarta yang Islami, dalam beberapa kali Pemilu Orde Baru,  PPP selalu menang di DKI Jakarta. Tapi ketika Ali Sadikin digantikan Tjokropranolo, dengan senjata becak Golkar bisa mengalahkan PPP di Ibukota. Kenapa di era Bang Ali Golkar kalah melulu? Karena gubernur Jakarta waktu itu tak mau ngurusi dan mencampuri politik warga kota.

Sekarang, Jakarta kembali akan memilih pemimpinnya. Tiba-tiba saja peci menjadi komoditas politik, dijadikan alat identifikasi diri bahwa dirinya calon gubernur yang Islami. Padahal KPUD sama sekali tak pernah mensyaratkan bahwa Cagub DKI Jakarta harus beragama Islam. Tapi itulah politik, apa saja bisa terjadi.

Peci bukan milik orang Jakarta saja, peci sudah menjadi bagian dari budaya nasional, sehingga di mana-mana peci selalu dipakai orang. Bahkan di luar negeri, peci Sukarno sangat terkenal. Sebab presiden pertama RI itu ke mana saja selalu mengenakan peci. Bung Karno tanpa peci, bikin pangling orang. Bung Karno mengenakan peci bukan saja setelah menjadi presiden, di masa muda tahun 1920-an, Bung Karno sudah mengenakan peci.

Indonesia tahun 1930, anak-anak sekolah juga sudah banyak yang mengenakan peci. Bahkan dalam buku “Woelang Basa” karya G.Boswinkel – R. Wignjadisastra (penertbit JB Wolters-Groningen Batavia), ada juga diceritakan kisah lucu tentang pedagang peci yang ketiduran dan peci dagangannya dijarah kawanan kera. Untuk bisa mengambil peci-peci miliknya, si pedagang cukup banting itu peci dan para kera pun serentak ikutan membanting pecinya.

Kera mengenakan peci memang lucu. Tapi orang pakai peci, jika tidak pas, juga menjadi lucu, terkesan seperti modin di kampung-kampung. Tapi siapa membantah, Bung Karno mengenakan peci menjadi lebih ganteng dan gagah?

Peci umumnya berwarna hitam. Tapi sebagai produk budaya, peci kini banyak diberi asesori macam-macam. Bahkan ada juga peci yang dibuat dari bambu, sebagaimana yang dipakai Gus Dur. Tapi paling lucu adalah pecinya pelawak Cak Lontong. Orangnya tinggi, tapi pecinya malah begitu pendek.

Peci hitam dibuat dari beludru. Hanya belakangan peminat kopiah beludru seolah tergeser oleh oleh peminat kopiah haji. Agaknya, itu lantaran sekarang naik haji makin sulit. Karena daftar antrian berhaji juga makin panjang, orang lebih suka mengenakan kopiah haji. Sebab, ada anggapan, dengan berkopiah haji, si pemakai kopiah dianggap sudah pergi haji ke tanah suci.

Memang, peci yang berwarna putih, identik dengan haji. Maka orang yang mengenakan peci putih sering dipanggil Pak Haji, meski belum tentu sudah menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Tapi sebaliknya, ada juga yang sudah Kiyai Haji (KH) tidak pernah terlihat di publik mengenakan peci putih. Misalnya saja KH. Said Aqil Siradj, Ketum PBNU sekaligus pejuang Islam Nusantara. Beliau ceramah ke mana-mana selalu mengenakan peci hitam dan lebih suka berbaju batik.

Tapi awas, peci apapun warnanya harus rajin menjemurnya. Jika tidak akan cepat berbau ledhis (tengik) karena keringat pemakainya. Orang kampung dulu, peci menjadi penutup kepala yang multi fungsi. Sebab bisa juga digunakan untuk menyimpan uang atau surat penting. Bagaimana membersihkan peci beludru yang berdebu? Orang kampung dulu biasa membersihkannya dengan juadah.

Terbanyak Dibaca

Exit mobile version