Nasional

FPI vs GMBI, Jadi Ajang Adu Kekuatan Dua Organisasi Kemasyarakatan

Posted on

Massa Front Pembela Islam (FPI) menggelar unjuk rasa di Markas Besar Polri, di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (16/1/2017). Dari atas mobil komando, pemimpin FPI Rizieq Shihab terlihat memimpin massa sambil memekikkan takbir dan selawat.

Massa FPI menuntut agar Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal Anton Charliyan karena dianggap membiarkan pecahnya kerusuhan antara FPI dengan lembaga swadaya masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) di Bandung.

Panas dua organisasi kemasyarakatan itu bermula dari pemanggilan Rizieq oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat soal dugaan pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap simbol negara. Pemanggilan Rizieq berdasarkan laporan dari putri mantan Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri, ke Mabes Polri.

Sukmawati melaporkan Rizieq karena dituding telah menghina Pancasila dan penghinaan terhadap presiden pertama Indonesia. Laporan tersebut dilimpahkan ke Polda Jawa Barat pada November 2016.

Pemeriksaan Rizieq mendapat perhatian dari pendukungnya serta kelompok yang menginginkan proses hukum berlanjut. Massa FPI yang mendukung Rizieq dan massa GMBI akhirnya terlibat bentrok. Buntut dari bentrok itu, kantor GMBI di beberapa wilayah di Jawa Barat diserang sekelompok orang.

Anton Charliyan menjadi sasaran unjuk rasa massa FPI karena jabatannya sebagai Ketua Dewan Pembina GMBI. Anton mengiyakan posisinya sebagai Ketua Dewan Pembina. “Tetapi saya membina agar mereka ini beradab,” kata Anton melalui Detikcom.

GMBI merupakan kependekan dari Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia lahir pada 18 Maret 2002. Organisasi kemasyarakatan yang menyematkan slogan setia bela pancasila ini diketuai oleh Mohammad Fauzan Rahman.

Dalam visi dan misinya, GMBI dibentuk untuk berpihak kepada kaum marginal, miskin yang tersingkir, tertindas dan sering diabaikan dalam pengambilan keputusan. Meski visi dan misinya membidik kaum lemah, GMBI melebarkan aksinya menyoroti isu nasional.

GMBI pernah melaporkan mantan Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transkasi (PPATK), Yunus Husein atas dugaan pembocoran rahasia negara terkait aliran dana ‘Rekening Gendut’ Jenderal Polisi Budi Gunawan.

GMBI kerap menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung KPK, Jakarta, ketika Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka menganggap penetapan tersangka Budi Gunawan cacat hukum.

Hakim Sarpin Rizaldi memutuskan status tersangka Budi Gunawan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi tidak sah. Pada April 2015, Budi Gunawan diangkat sebagai Wakil Kepala Polri dan disambut sujud syukur pada anggota GMBI.

Rentetan jejak GMBI dalam aksinya itu memunculkan kesan kedekatan dengan polisi. Di sisi lain, FPI pun tak kalah “kuat”-nya. Organisasi ini kerap dituding sebagai kelompok yang mendapatkan perlindungan politik dari beberapa tokoh serta aparat keamanan.

FPI pertama kali dicetuskan di Petamburan, Jakarta Pusat dan dideklarasikan secara terbuka di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan pada 17 Agustus 1998. FPI didirikan oleh sejumlah ulama dan aktivis dan merintis kemunculannya di publik lewat pengajian, tablig akbar, audiensi dengan unsur-unsur pemerintahan, serta silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama terkemuka.

Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean dalam Politik Syari’at Islam: Dari Indonesia ke Nigeria menyebutkan FPI dekat dengan orang-orang di sekitar Soeharto, khususnya Prabowo Subianto. Setelah Prabowo diberhentikan dari TNI terkait penculikan aktivis, FPI mengalihkan dukungannya kepada Jenderal Wiranto.

Beberapa tokoh yang disebut memberikan dukungan terhadap FPI adalah Kapolda Metro Jaya tahun 1998-1999 Nugroho Djayoesman dan Pangdam Jaya tahun 1998-1999 Mayjen TNI Djaja Suparman.

Wikileaks, situs pembocor rahasia negara, mengunggah bocoran arsip kabel diplomatik Amerika Serikat di internet. Salah satu arsip yang diluncurkan menceritakan mengenai hubungan erat antara dari kepolisian Indonesia untuk FPI. Dalam dokumen itu disebutkan bahwa kepolisian dan Badan Intelijen Negara memberikan dana untuk FPI sebagai tradisi.

Terbanyak Dibaca

Exit mobile version