Nasional

Anak Muda Indonesia sekarang Galau dan Cengeng?

Posted on

Benarkah anak muda Indonesia sekarang cengeng?

mixberita.com – Muhamad Sambudi (45), warga Desa Bogem Pinggir, Balongbendo, Sidoarjo, guru matematika duduk di kursi pesakitan karena mencubit anak muridnya. Berbagai reaksi bermunculan menyikapi kasus ini. Ada yang mengkritik sang guru, ada pula yang mengecam tindakan orangtua melaporkan kejadian itu ke polisi.

Di luar kejadian ini, termasuk apa pun fakta di pengadilan, masyarakat menilai bangsa ini sudah tidak lagi menghargai jasa sang guru. Publik menilai, pengaduan setiap anak seharusnya ditanggapi bijak oleh setiap orangtua, bukan dengan cara membawanya ke pengadilan.

Fenomena melaporkan guru setali tiga uang dengan sikap mengumbar kekesalan, kemarahan hingga kegalauan para remaja di media sosial. Ratusan bahkan ribuan laman Facebook kita jumpai dengan kalimat galau bahkan digunakan sebagai ajang caci-maki.

Tingkat pengendalian diri yang masih rendah dan emosi yang belum terkontrol menjadi faktor mengapa para remaja begitu mudahnya menulis isi hatinya di media sosial. Apakah ini menjadi suatu tanda jika anak muda Indonesia menjadi lebih cengeng sekarang ini?

Menurut Sosiolog Musni Umar, fenomena galau di media sosial tidak bisa dikatakan sebagai bentuk lemah hati atau sikap cengengnya remaja Indonesia. Dia mengatakan, era keterbukaan dan ketimpangan sosial di masyarakat menjadi pemicu utama mengapa para remaja rentan galau di media sosial.

“Saya tidak berpandangan anak muda cengeng, ini perubahan pola masyarakat. Dulu kan sangat otoriter, ini ketika masuk liberal yang berperan adalah masyarakat. Tapi dalam kondisi ini, masyarakat tidak berperan, yang peran adalah pemodal,” kata Musni.

Menjadikan media sosial sebagai tempat mengumbar kegalauan, menurut Musni, tidak dapat disalahkan. Sebab, kegalauan para remaja yang galau ini kebanyakan datang dari masyarakat dengan ekonomi kurang memadai. Isi hati mereka sejalan dengan kurangnya pendidikan dari orang tua yang juga minim pendidikan.

“Yang galau dan sedih adalah dari kelas bawah, ekonomi kecil. Pelarian mereka adalah narkoba dan miras dan melakukan hal yang tidak bermanfaat. Mereka galau dan depresi. Bayangkan mereka tiap hari nongkrong. Mau sekolah tapi orang tua tidak mampu. Mau kerja, tapi ijazah tidak memadai. Akibatntya ke negatif. Tidak bisa kita salahkan,” imbuhnya.

Di sini, kata dia, peran keluarga, masyarakat dan terutama negara sangat penting. Negara harus bisa menjamin rasa nyaman warganya termasuk perhatian kepada para remaja. Utamanya adalah upaya pencerdasan, kesejahteraan umum dan adanya perlindungan terhadap hak-hak anak.

“Negara harus menimbulkan optimisme dan harapan. Dia harus lindungi masyarkat, cerdaskan bangsa dan kesejhateran umum. Kalau tiga hal ini tidak dilakukan, yang nikmati pembangunan hanya oleh yang berpunya,” jelas dia.

Namun demikian, kata dia kegalauan para remaja itu bukan hanya datang dari kalangan ekonomi bawah. Anak remaja dari kalangan ekonomi menengah ke atas juga melakukan hal yang sama. Penyebab utamanya adalah ketidakpahaman orang tua dalam memahami kebutuhan anaknya. Keterpenuhan dan kecukupan ekonomi harus seimbang dengan kebutuhan psikologi anak.

“Jika ada yang tidak nyaman karena kurang diapresiasi, tidak diperhatikan. Maka orang tua adalah pilar utama. Mereka kadang hidup dalam keterasingan keluarga dan mereka tidak nyaman. Kalau narkoba atau galau di medsos ya ini adalah pelarian,” kata Musni.

Sementara itu, kejadian melaporkan guru di polisi, kata dia sangat salah. Orang tua harus lebih bijak menyikapi setiap kemarahan anak-anaknya entah itu terjadi di antara para murid maupun dengan gurunya sendiri. Akibatnya, kata dia, di masa mendatang para guru lebih mencari rasa aman ketimbang memberikan perhatian kepada murid-muridnya.

“Orang tua merasa dia sudah pendidikan padahal belum. Ketika anak lapor, dia (orang tua) langsung lapor polisi. Maka guru sekarang banyak melakukan seadanya saja, tidak lagi bina karena takut dilapor polisi. kalau guru jadi pesakitan yang rugi bukan pelapor tapi bangsa ini. Guru dan orang tua tidak lagi sinkron. Dalam upaya membentuk anak dia lebih cari selamat, dapat honor ya sudah. Ini hal yang membuat miris,” pungkas Wakil Rektor Universitas Ibnu Kaldun, Jakarta ini.

Terbanyak Dibaca

Exit mobile version