Nasional

Stop Berkampanye Gunakan Info Palsu atau Hoax di Media Sosial

Menurut Ketua Presidium Jaringan Wartawan Anti Hoax Agus Sudibyo, masyarakat Indonesia sudah jenuh dan muak dengan media sosial yang penuh informasi palsu atau hoax.

“Jadi, ini harus dimanfaatkan oleh media konvensional agar meyakinkan masyarakat bahwa berita yang mereka produksi bisa dipercaya. Hal ini sudah terjadi di Amerika Serikat, warga AS alami rebound, jenuh dari media sosial kembali ke media konvensional. Rebound itu bisa juga terjadi di masyarakat Indonesia,” jelasnya saat diskusi bertema ‘Memerangi Hoax dan Memperkuat Media Siber Nasional’ di JCC, Senayan, Senin (1/5).

Atas dasar itu, Agus meminta agar media konvesional tidak lagi menjadi pengikut media sosial. Jika media konvensional masih bertingkah layaknya media sosial yang penuh hoax maka media konvensional masuk dalam perangkat habitat baru yang eksis karena telah terperangkap sebagai kompetitor media sosial.

“Media konvensional harus kembali ke khittah saat masyarakat sudah jenuh dengan media sosial. Kasih info yang kredibel, mencerahkan dan tidak memecah belah masyarakat,” ujarnya.

Agus menekankan budaya rebound masyarakat AS sebagaimana mengutip penulis Farhad Manjoo di New York Times soal kebohongan atau hoax yang sudah mengalami proses institusionalisasi. Di mana, Farhad menyoroti hoax yang justru dimanfaatkan kubu Hillary Clinton dan Donalld Trump semasa kampanye pilpres tahun lalu.

Mirisnya, hal tersebut juga terjadi saat ajang Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Baik pihak Anies Baswedan maupun Basuki Tjahaja Purnama sama-sama menjadikan Hoax sebagai alat kampanye untuk mempengaruhi tingkat elektoral.

Sayangnya media konvensional pun terperangkat dan menjadi pengikut pemberitaan hoax dan fake news yang tersebar lewat media sosial sepanjang September hingga November tahun lalu. Hoax yang harusnya dihindari karena bersifat amoral justru dipraktikkan.

Farhad pun membaca bahwa setelah pilpres AS itulah warga alami rebound untuk kembali ke media konvensional karena muak dengan media sosial. Namun demikian, masyarakat mengaku bingung karena sulit membedakan mana berita bohong dan mana berita yang sesuai fakta.

“Ini yang disebut Farhad sebagai institusionalisasi. Tapi media konvensional di Indonesia harus bisa keluar dari situ dan kembali ke khittah sebagai pembawa kebenaran dan pencerahan,” demikian Agus.

To Top