Fenomena Umrah Backpacker yang Jadi Tren Mulai Tahun 2010

                  
Travel

Fenomena Umrah Backpacker yang Jadi Tren Mulai Tahun 2010

Umrah Backpacker Jadi Alternatif Perjalanan Umrah ke Tanah Suci

Apa Itu Umrah “Backpacker”?

Perjalanan umrah ke Tanah Suci tampaknya menjadi salah satu impian bagi setiap umat muslim. Umrah sendiri bisa jadi alternatif bagi setiap muslim yang ingin beribadah haji, tapi belum bisa terlaksana lantaran biaya yang besar dan terbatasnya kuota haji.

Meski demikian, biaya umrah pun juga terbilang tak kecil. Jamaah harus mengumpulkan uang hingga belasan sampai puluhan juta untuk bisa berangkat umrah.

Namun beberapa tahun lalu muncul istilah ” umrah backpacker” yang menawarkan perjalanan umrah dengan biaya lebih efiesien. Salah satu orang yang memopulerkan istilah tersebut adalah Elly Basrah Lubis.

Menurutnya, umrah bisa dilakukan dengan cara backpacker. Seperti apa?

“Kalau dilihat dari definisinya jelas ya kalau umrah itu perjalanan ke Tanah Suci untuk ibadah dalam waktu tertentu dan aktivitas tertentu. Kalau backpacker saya itu hasil googling juga sih. Itu ada empat definisi. Backpacker itu perjalanan yang independen, perjalanan dengan bawa barang sedikit, perjalanan yang punya nilai edukasi, dan perjalanan yang mempunyai biaya rendah,” jelas Elly.

Menurutnya, umrah secara backpacker bisa mendapatkan kesempatan tiket murah dan membawa barang yang sedikit. Selain itu, umrahbackpacker juga punya nilai edukasi bagi diri sendiri.

“Dalam hal ini hanya satu yang tidak bisa kita dapatkan yaitu perjalanan yang independen karena visa kita harus urus ke travel juga. Tapi ketika kita bisa dapatkan harga yang murah, edukasi, dan bawa barang yang sedikit. Menurut saya, tiga dari empat prinsip backpacker itu kita sudah dapat. Makanya saya sebut tetap umrah backpacker. Pada prakteknya, ada juga harganya tidak murah-murah banget,” tambah perempuan yang juga akrab disapa Mbak Butet itu.

Menurutnya, dalam konsep umrah backpacker, jemaah juga bisa pergi sendiri ke Tanah Suci. Namun, Elly mengatakan jemaah harus mengetahui segala aktivitas terkait umrah secara mandiri.

“Cuma yang jadi permasalahan itu kan Arab Saudi beda. Contohnya visa. Ketika jamaah sampai di Jeddah, ada orang muasassah (orang yang mengeluarkan visa) nunggu di sana. Nah kita kalau memang sendirian di sana, gak paham di sana, nanti biasanya akan jadi masalah,” ujar salah satu penulis buku ” Umrah Backpacker: A to Z Berumrah Ala Backpacker” itu.

Hal yang mendasar di umrah backpacker ini adalah jemaah punya hak untuk menentukan keberangkatan umrahnya masing-masing. Keputusan tentang maskapai apa dan kapan berangkat ada di tangan jamaah.

“Kalau pada umrah backpacker itu ada tiket pesawat murah, itu biasanya langsung dibayar lunas. Kalau pada umrah reguler, biasanya DP (Down Payment) dulu,” tambah perempuan lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia itu.

Perbedaan Umrah “Backpacker” dan Reguler

Beberapa tahun belakangan, ada tren pergiumrah secara backpacker. Jemaah umrah bisa pergi ke Tanah Suci Mekkah dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan umrah reguler.

Umrah reguler sendiri biasanya ditawarkan oleh agen-agen perjalanan. Lalu apa bedanya umrah backpacker dengan umrah reguler?

Penulis buku “Umroh Backpacker: A to Z Berumroh Ala Backpacker”, Elly Basrah Lubis mengatakan bahwa jamaah umrah backpacker bisa menentukan keberangkatan umrahnya masing-masing. Keputusan tentang maskapai apa dan kapan berangkat ada di tangan jamaah.

“Kalau di umrah backpacker itu ada tiket pesawat murah, itu biasanya langsung dibayar lunas. Kalau di umrah reguler, biasanya DP (Down Payment) dulu,” tutur perempuan lulusan Sastra Arab Universitas Indonesia.

Sementara itu, dalam umrah reguler, jamaah biasanya hanya menyerahkan sejumlah uang kepada agen perjalanan. Selanjutnya, agen perjalanan umrah menyerahkan bukti pembayaran dan meng-arrange semua keperluan di Tanah Suci.

“Kalau di ( umrah) reguler, travel agent sudah punya patokan. Pesawatnya ini, hotelnya ini. Jadi perbedaan dari beli tiket itu,” tambah Elly.

Tiket pesawat pada umrah reguler adalah jenis tiket block seat. Hal itu, menurut Elly, membuat harga tiket lebih mahal dibandingkan tiket promo.

Perbedaan lainnya adalah tak adanya perwakilan agen perjalananumrah yang ikut dalam umrah backpacker. Pada umrah reguler, biasanya perwakilan agen perjalanan juga ikut dalam perjalanan ke Tanah Suci.

“Kalau umrah backpacker itu tidak dipersilahkan menggunakan atribut grup. Kalau di umrah reguler itu kan ada koper, juga seragam. Kalau backpacker itu dipersilahkan mau pakai atau enggak,” ujar Elly yang juga akrab disapa Mbak Butet itu.

Sejak Kapan Umrah “Backpacker” Mulai Populer?

Backpacking bisa dicoba sebagai alternatif perjalanan umrah ke Tanah Suci. Biayanya bisa lebih murah, Anda pun bebas menentukan waktu keberangkatan. Itulah beberapa keuntungan yang bisa didapatkan jika Anda melaksanakan umrah ala backpacker.

Penulis buku ” Umrah Backpacker: A to Z Umrah ala Backpackeran”, Elly Basrah Lubis menyebutkan bahwa tren umrah backpacker telah ada setidaknya mulai tahun 2010. Bahkan, ia menyadari banyak jamaah yang melakukan umrah secara backpacker.

“Fenomena umrah backpacker sebenarnya sudah lama, sejak 2010 saya pernah ketemu jamaah umrah backpacker di Mekkah tapi saya gak kenal. Saya baru tahu umrah backpacker sekitar 2013-2014,” kata Elly.

Menurutnya, fenomena umrah backpacker mulai dilakukan sejak tahun 2010 tapi belum banyak diketahui secara luas. Menurutnya, ada beberapa travel agent yang juga menawarkan pilihan umrah backpacker.

“Saya sebenarnya main di umrah reguler. Saya pertama melayani haji lalu ke umrah. Ketika saya ingin umrah, saya berkenalan dengan seorang yang ingin umrah backpacker. Dia bilang tempat kami tak ada manasik. Ketemu lagi dengan orang umrah backpacker, dia tawafnya tidak sempurna,” ujar wanita yang juga memiliki agen perjalanan umrahitu.

Jamaah-jamaah umrah backpacker yang ia temui pada saat itu banyak yang tak tahu tentang tata cara umrah. Dari pengalaman Elly, ada beberapa yang pernah menghubunginya terkait tata cara pelaksanaanumrah.

“Saya tanya memang gak ada ustadnya? Dari situ saya berasa kalau sayang sekali, harga yang murah dan nabung segala macamnya, tapi pelaksanaan ibadahnya gak sempurna. Dari situ saya tergugah (untuk populerkan umrah backpacker). Jadi saya bukan pionir umrahbackpacker,” jelasnya.

Komentar
To Top